Posted on

Jalan – Jalan ke Pulau Gili Trawangan di Utara Pulau Lombok

 

Booking dan Reservasi:

PT. Lombok Tropic Holidays Indonesia
Jl. Barakuda No 09
BTN Griya Batu Bolong Green Valley
Senggigi – Lombok Barat
NTB – INDONESIA
Phone and fax : +62 (0)370  692 179
Email: info@lombokgilis.com

 

 

 

 

 

Banyak fotografer bilang kalau Lombok itu pantainya bagus pakai banget. Soalnya, pantai-pantai di pulau Lombok itu pasirnya putih, ada bukit hijaunya, dan jarang dijamah manusia. Sebenernya pantai yang bagus itu nggak hanya ada di pulau Lombok aja, tapi juga ada di pulau-pulau kecil sekitar Lombok yang disebut Gili oleh masyarakat setempat. Dari sekian banyak Gili yang mengelilingi pulau Lombok, ada satu Gili yang populer, namanya Gili Trawangan.

Naik Perahu
Gili Trawangan adalah Gili terbesar dan letaknya berdekatan dengan Gili Air dan Gili Meno. Gili ini berlokasi di Kec. Pemenang, Kab. Lombok Barat. Untuk bisa menyebrang ke Gili Trawangan, kita bisa menumpang perahu yang berlabuh di Pelabuhan Bangsal. Jangan heran kalau di perahu itu juga dijejali dengan aneka macam sandang-pangan-papan, karena kebutuhan hidup di Gili dipasok dari Pulau Lombok. Tarif menyebrang ke Gili Trawangan adalah Rp 10.000 per orang, kalau sudah sampai di Pelabuhan Lembar cari dan hampiri saja kapten kapal dan silakan bertransaksi ^^. Perjalanan dari Pelabuhan Lembar ke Gili Trawangan memakan waktu kurang lebih 30 menit.

Populer Bule
Kalau kita nggak melihat bendera merah-putih berkibar-kibar, kita nggak bakal menyangka kalau Gili Trawangan ini masih wilayah Indonesia. Kenapa? Soalnya disana banyak banget turis bulenya! Memang Gili Trawangan ini dikenal sebagai surganya snorkeling, diving, dan surfing. Untuk penginapan, Gili Trawangan menawarkan banyak pilihan. Dari hotel berbintang bertarif jutaan rupiah per malam sampai losmen kecil bertarif ribuan rupiah per malam. Tinggal pilih sesuai kantong selera. Diperhatikan juga bahwa kapal-kapal penyebrangan itu hanya beraktivitas dari pukul 6 pagi hingga 6 sore.

Ayo Berwisata Ekologi!
Sebelumnya aku mau memberi tahu dulu, kalau setiap liburanku itu nggak kugunakan untuk bersenang-senang. Pertama, karena aku ini hobi motret, jadi di setiap liburan aku merasa dapat kewajiban untuk bisa menghasilkan foto bagus. Kedua, karena aku ini hobi mblusuk, jadi di setiap liburan aku berusaha untuk mengenal lebih dekat tempat yang aku singgahi itu. Termasuk diantaranya bercengkrama dengan warga sekitar, syukur-syukur dapat gebetan kenalan baru. Paling tidak aku jadi tahu bagaimana kehidupan disana dan mengenal kebudayaan mereka. Wisata semacam ini yang disebut sebagai Wisata Ekologi dan bisa bikin kita merasakan sensasi Indonesia yang sesungguhnya.

Dilarang Ada Motor
Kembali ke topik utama ^^, dari apa yang aku sebutkan diatas aku harus mblusuk di Gili Trawangan ini. Kendaraan yang ada di Gili Trawangan ini terbatas, hanya ada CiDoMo bertarif Rp 10.000 – 20.000 (tergatung jarak tempuh) dan sewa sepeda. Aha! Sebagai manusia Bike to Work, jelas aku milih menyewa benda yang bisa digowes itu. Karena tampangku yang rupawan memelas, aku berhasil mendapatkan tarif yang murah buat nyewa sepeda yaitu Rp 15.000 per jam atau Rp 30.000 seharian. Melihat diriku yang gagah kepayahan membawa kamera dan tripod, mbak sewa sepeda menawarkan sepeda jengki yang ada keranjangnya. Duh, serasa naik Sierra DX-nya mbak Indomielezat. Tapi tak apalah, dengan ini mblusuk bisa dimulai!

Kalau kita melihat sisi selatan Gili Trawangan, kita bakal menemukan surga! Disinilah denyut nadi perekonomian Gili Trawangan. Beragam kafe, restoran, dan pub berjejer di sepanjang pantai. Konsumen utamanya? Jelas turis bule lah! Harga makanan disana sebenernya nggak mahal-mahal amat, Rp 30.000 keatas lah. Minuman alkohol aja dijual mulai harga Rp 10.000. Tapi berhubung diriku ini muslim taat yang berkantong cekak, alhasil selama disana aku cuma makan makanan ndeso. Syukur disana masih ada makanan ngeyangin dengan harga kurang dari Rp 10.000. Jadi terhindar dari makan pasir dan air laut tiap hari deh. Selain itu kebutuhan pokok lain yang dijual di toko-toko kelontong, pada umumnya sedikit lebih mahal. Mungkin jadi mahal di ongkos kirim.

Kalau di sisi selatan surga, bagaimana di sisi utara? Nggak usah jauh-jauh deh, cukup 1-2 km dari bibir pantai selatan ke arah utara, kita bakal menemukan perkampungan warga. Mau cari rumah mewah, kalau nggak untuk penginapan ya disini nggak ada. Rata-rata rumahnya berukuran kecil, berdinding bata, layaknya rumah-rumah kampung di pulau Jawa. Kondisi jalan-jalan kampung ini gelap kalau malam, karena minim lampu penerangan jalan. Apalagi Gili Trawangan ini kerap mengalami padam listrik pas malam hari. Mantap jaya lah hidup di tengah pulau tanpa listrik.

Aku penasaran dengan suara di sore hari yang kudengar saat tiba pertama kali di pulau ini. Aku tanya saja kepada warga, “Disini masjid dimana ya Pak ?” dan Alhamdulillah dengan kesasar aku berhasil menemukan masjid. Katanya di Masjid di Gili Trawangan ini ada dua. Di Masjid Nurul Istiqomah itu aku menyempatkan shalat Isya berjamaah. Sayup-sayup di bagian sisi masjid aku mendengar ada anak-anak yang sedang membaca Al-Qur’an. Kenapa aku menuliskan hal ini, karena Gili Trawangan ini identik dengan kehidupan bersenang-senang ala bangsa barat. Jadi agak kontras aja melihat suasana keagamaan yang cukup kental di bagian lain pulau ini. Nggak hanya masjid, aku juga mencari fasilitas umum lain seperti sekolah, puskesmas, dan pasar. Aku kepingin tahu aja, bagaimana prasarana penunjang hidup bagi warga lokal yang (biasanya) terpinggirkan oleh prasarana penunjang pariwisata untuk turis asing. Sedikit ke utara aku menjumpai pemandangan kebun kelapa. Rupanya beberapa warga mengandalkan kelapa sebagai tumpuan ekonomi mereka. Disini aku merasakan kehidupan warga lokal Gili Trawangan yang sesungguhnya. Jauh berbeda dari hiruk-pikuk yang ada di sisi selatan.

Jangan Sampai Dikuasai Bule!
Kalau aku bilang, Gili Trawangan itu hidup, dalam arti mampu menunjang kehidupannya sendiri dengan potensi yang ada disana. Walau di beberapa tempat yang jauh dari pusat perekonomian, masih bisa ditemui kesenjangan ekonomi yang nyata. Perlu diperhatikan, bagi tempat pariwisata yang bercampur dengan pemukiman warga, bisa jadi ada pengaruh-pengaruh asing yang menyusup ke dalam sendi kehidupan warga. Kalau ini terjadi, wah bisa runyam, karena nilai-nilai sosial dan budaya warga akan menghilang dan tergantikan oleh nafsu mengeruk keuntungan semata. Semoga jangan sampai deh itu terjadi! Melihat banyaknya turis asing aku ngeri sendiri kalau kelak tempat ini dikuasai sepenuhnya oleh investor asing.

Website Links:

www.lombokgilis.com
www.lombok-giliislands.com
www.lombok-tours.com
www.lombokmarine.com
www.rinjanionline.com
www.lombokrooms.com

 

 

 

 

 

About Ichsanfarro

Be like a boat that roam the world and explore science

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s